Menggagas Mobilitas

Posted July 9, 2006 by thegadget
Categories: Budi Putra, Column, Computer, Consumer, Corporate, Enterprise, Internet, Mobile Technology, Writing

Betulkah di masa datang ke kantor tidak diperlukan lagi? Betulkah pertemuan secara fisik antarkaryawan akan semakin berkurang?

Beberapa tahun terakhir sejumlah perusahaan besar memang sudah mulai mengakomodasi konsep mobilitas ketika karyawannya tidak selalu harus datang ke kantor.

Tapi tentu tidak semua karyawan memiliki jenis tugas yang sama. Misalnya ada karyawan yang lebih banyak mengurusi pekerjaan kantoran–tentu tidak bisa disamakan dengan mereka yang mobile.

Lalu bagaimana mengakomodasi keduanya? IBM, sebagai contoh, menawarkan solusi menarik. Perusahaan teknologi informasi terkemuka ini menawarkan dua opsi: memilih jadi karyawan bergerak (mobile employee) atau karyawan yang bisa bekerja jarak jauh (telecommuting).

Sistem ini diterapkan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Karena itu, setiap karyawan akan dibekali dengan komputer notebook yang komplet dan perusahaan menyediakan infrastrukturnya.

Pilihan pertama ditawarkan kepada karyawan yang karena tugasnya lebih sering bertemu dengan pelanggan dan klien di lapangan.

Pilihan kedua ditujukan kepada karyawan kantoran yang tetap bisa mengerjakan tugasnya di rumah pada waktu-waktu tertentu.

Keuntungannya jelas: karyawan bisa fleksibel mengatur waktunya, intensitas pertemuan dengan pelanggan bisa lebih tinggi, dan tugas-tugas yang dikerjakan di rumah bisa cepat selesai.

Perusahaan sendiri akan mendapati para karyawannya yang produktif dan termotivasi. Belum lagi penghematan dari segi operasional dan ruang kantor.

Memang, bagi perusahaan yang sudah maju, output jauh lebih penting ketimbang proses yang panjang dan kaku.

Di perusahaan-perusahaan konvensional, mengisi absen di kantor masih menjadi kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar.

Bahkan karyawan yang sering di lapangan tetap harus tergopoh-gopoh menembus macet serta deru dan debu hanya karena diwajibkan datang ke kantor.

Apalagi diperparah pula oleh budaya perusahaan yang masih konservatif: sang bos akan naik pitam jika tidak melihat bawahannya nongol di kantor.

Mulai memikirkan bagaimana merancang format bekerja jarak jauh bagi karyawan, jauh lebih penting ketimbang menghabiskan waktu dan tenaga menyelidiki absensi karyawan.

Budi Putra
Koran Tempo, 9 Juli 2006 | e-culture

Menelepon dengan Jari

Posted July 4, 2006 by eculture
Categories: Blog, Budi Putra, Column, Culture, Internet, Mobile Technology, Published, Technology, Writing

jari.jpg

Buang headset telepon seluler Anda. Bahkan Anda juga tak perlu sebuah handset. Cukup tempelkan jari ke telinga: dengarlah atau bicaralah dengan orang yang menelepon Anda.

Itulah teknologi ponsel terbaru rancangan NTT DoCoMo, Jepang, yang dinamai Finger Whisper Phone. Pada awalnya prototipe telepon ini dipakai di pergelangan tangan seperti arloji. Namun, pada versi mutakhir seperti yang dipamerkan di ajang CommunicAsia, Singapura tempo hari, alat itu mengecil hingga sebesar cincin (Koran Tempo, 1 Juli 2006).

Media Computing Laboratory, pusat penelitian dan pengembangan DoCoMo, berhasil mengembangkan sebuah prototipe ponsel yang menggunakan anggota tubuh penggunanya sebagai media transmisi suara.

Ponsel ini menggunakan pergelangan tangan sebagai sarana mengkonversi gelombang suara digital menjadi vibrasi melalui tulang pergelangan tangan.

Hasilnya bisa didengar dengan cara mendekatkan jari ke telinga. Jari telunjuk dan jempol yang disentuhkan akan berfungsi sebagai tombol on/off untuk menerima atau mengakhiri panggilan telepon.

Transmisi suara melalui tulang dianggap lebih baik ketimbang melalui udara. Kualitas suara teknologi telepon bergerak terbaru itu diharapkan jauh lebih bagus ketimbang ponsel tradisional: tetap nyaman saat menerima panggilan di tengah kebisingan.

Selain berfungsi mengirim suara melalui pergelangan tangan dan jari ke telinga, metode itu mengkonversi suara pengguna yang dikirim balik melalui jari dan pergelangan tangan, kemudian ditangkap oleh mikrofon di ponsel yang disulap menjadi sebentuk arloji.

Ponsel itu memang sengaja dirancang sepraktis mungkin. Karena berukuran sangat mungil, agar tidak ribet, ponsel itu didesain tak memiliki keypad. Untuk membuat panggilan, pengguna hanya perlu mengucapkan nomor tujuan.

Jadi tibalah saatnya handset diganti dengan fingerset.

Selain orisinal, seperti diungkapkan analis Amanda Akien, ponsel–arloji dan ponsel–cincin ala Negeri Sakura itu itu merupakan “Konsep eksentrik lain yang pernah disumbangkan Jepang untuk Planet ini, setelah sumo, karaoke, sushi, dan geisha”.

Moshi moshi!

Budi Putra
Koran Tempo, 2 Juli 2006 | e-culture

Melongok Blog Piala Dunia

Posted June 25, 2006 by eculture
Categories: Blog, Column, Internet, Writing

Kemarin, putaran 16 besar Piala Dunia 2006 dimulai. Perhatian kita mulai terfokus pada tim-tim yang berjuang keras untuk maju ke babak berikutnya.

Siapa yang Anda jagokan? Tim mana pun favorit Anda, teruslah mengikuti perkembangannya lewat berbagai media: televisi, surat kabar, dan tentu saja Internet.

Nah, di Internet, Anda bisa memilih dan memilah sumber-sumber berita yang Anda perlukan. Pasalnya, di sini tersedia sekian banyak pilihan: mulai situs berita, portal, hingga blog yang bejibun banyaknya.

Blog? Media online berbasis web yang interaktif dan impresif itu dewasa ini makin digemari. Berawal hanya berupa catatan harian online pribadi, kini blog sudah merambah hampir seluruh lini: mulai sekadar catatan harian, kini blog sudah menjelma menjadi semacam media online profesional hingga blog korporat dan bisnis.

Karena itu, di antara ratusan situs berita yang gencar menginformasikan perhelatan Piala Dunia 2006, terselip blog yang juga mengabarkan informasi serupa.

Saya lebih sering melongok blog Piala Dunia 2006 ini dengan satu alasan: media ini memiliki dan menampilkan pendekatan yang khas dan spesifik. Tema dan entry-nya khas dan lebih berbasis pada komentar-komentar penonton perhelatan empat tahunan itu dan para pengakses blog sendiri.

Hebatnya lagi, sebagian besar blog ini diperbarui secara harian sehingga aktual dan baru. Memang belum secepat media-media mainstream, seperti kantor berita, surat kabar, dan situs berita, tapi karena peruntukan dan tujuannya berbeda, soal ini tidak terlalu mendesak untuk dipersoalkan.

Untuk yang berbahasa Inggris, saya sering menyambangi http://worldcupblog.org, sedangkan untuk yang berbahasa Indonesia saya suka http://jerman2006.wordpress.com yang cukup lengkap dan aktual.

Sebetulnya masih ada blog lain yang berbahasa Indonesia, yakni http://blogworldcup2006.blogspot.com dan http://pialadunia2006.blogspot.com. Tapi sayang, tidak senantiasa diperbarui.

Oh ya, mumpung kita lagi demam Jerman karena negara itu sedang menjadi tuan rumah, tak ada salahnya mencoba belajar Bahasa Jerman di blog http://syams.wordpress.com. Lumayan, bisa untuk mempelajari dasar-dasar dan istilah-istilah pentingnya.

Koran Tempo, 25 Juni 2006 | e-culture

Bekerja Pintar di Kantor Pintar

Posted June 10, 2006 by eculture
Categories: Column, Corporate, Enterprise, Mobile Technology, Published, Writing

Bagi Hartanto, sebut saja begitu, bekerja cerdas itu tidak sama dengan bekerja keras. Pengusaha muda di bidang komputer itu berpendapat efisiensi yang dipacu dengan pemilihan perangkat kerja yang tepat akan melahirkan hasil kerja yang optimal.

Sementara itu, orang yang bekerja keras, menurut dia, belum tentu hasilnya optimal bila tidak didukung oleh fasilitas yang cerdas. "Bekerja keras siang-malam bisa digantikan dengan bekerja dengan waktu yang terukur, tapi hasilnya justru lebih cepat dan akurat," ujar Hartanto.

Sejumlah perusahaan teknologi informasi menawarkan solusi kantor pintar (smart office) yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan dan jenis pekerjaan masing-masing.

"Solusi kantor pintar akan meningkatkan efisiensi dalam banyak hal, misalnya dalam hal waktu, biaya operasional, jumlah karyawan, dan tentu saja menghemat kebutuhan akan space ruangan kantor," ujarnya.

Salah satu perusahaan TI terkemuka, Hewlett Packard, menawarkan solusi smart office, yang diluncurkan beberapa tahun yang lalu, kini sudah merilisnya untuk sektor komersial di Indonesia.

Menurut data AMI-Partner, sektor komersial akan terus berlanjut menjadi segmen pasar yang paling tinggi tingkat perkembangannya di kawasan Asia Pasifik dan tingkat pertumbuhan diperkirakan mencapai 17,1 persen hingga 2008.

Portofolio solusi dari HP mencakup solusi keamanan, mobilitas, dan pengembangan fitur komunikasi membantu pelanggan memperoleh akses teknologi yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Solusi ini mengacu pada tiga prinsip utama: keamanan, konektivitas, dan ketersediaan.

Setiap kategori kantor pintar tersebut bisa diandalkan untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan dan memberi kepuasan terhadap pelanggan.

Itulah sebabnya, kini tak sedikit perusahaan yang berorientasi pada klien dan pelanggan, tak mau lagi pusing-pusing mencari kantor di lokasi-lokasi strategis yang jelas sewanya supermahal.

Kantornya bisa di mana saja, yang penting semua awaknya dilengkapi dengan perangkat kerja yang tepat.

Apalagi, faktanya, sebagian besar pelanggan lebih suka didatangi, bukannya mendatangi kantor yang menyediakan layanan terhadap mereka.

Jadi kenapa harus repot-repot?

(KT, 28 Mei 2006)

Tak Ada Indonesia di PayPal

Posted June 10, 2006 by eculture
Categories: Blog, Column, Internet, Published, Technology, Writing, e-commerce

Pekan lalu saya mengunduh dua buah template blog dari sebuah weblog yang menyediakan sejumlah desain blog gratis.

Sebagai tanda terima kasih, saya ingin memberi donasi beberapa dolar dengan cara mengklik ikon Donate yang ada di situsnya.

Tapi saya baru tahu kalau di formulir PayPal, perusahaan penyedia jasa pembayaran account si penerima donasi tersebut, tak ada opsi Indonesia untuk pilihan negara.

Mungkin kejadian itu sudah lama berlangsung, tapi saya baru tahu karena baru kali ini ada urusan mengirim sejumlah uang lewat PayPal.Penyebabnya, apalagi kalau bukan tingkat cyber-fraud yang berasal dari negeri ini masih sangat tinggi. Sudah jamak diketahui Indonesia adalah salah satu pemegang rekor tertinggi pencurian kartu kredit di Internet.Sebuah "prestasi" yang tak perlu dibanggakan, bukan?
Tapi PayPal mestinya tidak menggeneralisasi semua orang Indonesia suka melakukan hal yang sama. Akhirnya, untuk mengirim donasi sekalipun orang Indonesia tidak bisa.

Terus-terang saya menyumpah-nyumpahi ulah para para pencuri kartu kredit yang nyata-nyata menyusahkan semua orang itu.

Sejatinya sudah ada beberapa petisi online yang dilakukan untuk mendesak PayPal agar segera memasukkan Indonesia dalam formulirnya, tapi tetap saja sampai sekarang belum tuntas.

Saya sudah mem-posting masalah ini di blog saya yang lain (thegadget.wordpress.com). Salah seorang pengunjung blog menceritakan pengalaman pahitnya terkait dengan masalah ini.

"Welcome to the club, Pak Budi," tulis rekan itu di kolom komentar. "Gara-gara itu, sekarang bisnis saya kena charge lumayan banyak buat urusan transfer."

Menurut dia, tidak hanya PayPal, urusan di eBay (www.ebay.com) jadi tidak mengasyikkan setelah dia ditendang mentah-mentah dari eBay. "Mungkin karena saya dari Indonesia. Duh."

Mungkin perlu dipikirkan cara lain sebagai jalan keluar dari masalah ini.

Bagaimanapun sejauh ini PayPay adalah penyedia layanan sistem pembayaran dan penerimaan uang paling praktis yang ada di dunia.

Sayang sekali kalau orang Indonesia sama sekali tak bisa memanfaatkannya.

(KT, 4 Juni 2006)

Aspek Pornografi Ponsel 3G!

Posted May 28, 2006 by eculture
Categories: Draft

Kecanggihan ponsel generasi ketiga (3G) bisa membuat seorang Perdana Menteri turun tangan. Perdana Menteri Kamboja Hun Sen kemarin melarang peredaran ponsel 3G menyusul komplain dari sang istri dan koleganya menyangkut pornografi. [e]

Open Source!

Posted February 19, 2006 by eculture
Categories: Published

Open source adalah salah satu perubahan paling dramatis yang mempengaruhi industri peranti lunak akhir-akhir ini. Vendor-vendor besar, seperti HP, IBM, dan Sun, kini gencar mengadopsi pendekatan ini untuk produk-produk servernya.

Pekan lalu, HP bekerja sama dengan Novell menyediakan lisensi open source yang menawarkan solusi Linux pada server HP ProLiant dan teknologi BladeSystem.

Isu-isu seputar peranti lunak nonlisensi (open source) dan komersial (propietry)–dua model perizinan dan pengembangan peranti lunak yang paling populer–memang sedang menggarami ranah industri teknologi informasi dunia.

Masing-masing model bisa diterjemahkan ke dalam strategi bisnis yang realistis. Kini semakin banyak perusahaan menemukan cara menggunakan kedua pendekatan tersebut dan membuatnya saling mendukung.

Sebagai contoh, ada platform sistem operasi yang mengandung royalti tapi memanfaatkan pendekatan open source untuk pemrograman sistem di tingkat bawah, misalnya pemrograman driver, dengan tetap mempertahankan pendekatan komersial pada pemrograman di tingkat yang lebih tinggi (misalnya pemrograman antarmuka).

Sebaliknya, ada penyedia peranti lunak yang menyumbangkan program komersialnya kepada komunitas open source agar solusi-solusi open source dapat dioperasikan pada platform yang lebih luas lagi.

Perdebatan yang paling seru dari kancah ini adalah bahwa solusi open source ketika source code-nya tersedia untuk publik otomatis lebih aman ketimbang solusi peranti lunak komersial yang source code-nya tidak dibuka kepada publik.

Terlepas pendapat mana yang paling benar, yang jelas produk dan implementasi teknologi tidak ditentukan oleh metode pengembangan ataupun distribusinya. Beberapa produk komersial lebih tidak aman dibanding produk sejenis yang dikembangkan oleh komunitas, sama halnya dengan beberapa produk open source lebih tidak aman dibanding pesaing komersialnya.

Walaupun desain fitur-fitur keamanan sangatlah penting, yang lebih penting lagi adalah seberapa baik peranti lunak tersebut dijalankan, dikonfigurasikan, dan dipelihara. Variabel-variabel ini lebih ditentukan oleh bagaimana pelanggan merawat peranti lunaknya dengan baik dan bukan bergantung pada masalah model pengembangan atau perizinan yang dipilih. (Koran Tempo, 19/2/2006)

Akses Turbo EV-DO

Posted February 15, 2006 by eculture
Categories: Column, Consumer, Corporate, Gadget, Mobile Technology, Published, Writing

Akses jaringan berpita lebar memang jadi impian bagi pengguna teknologi yang hobi Internet, transfer data, dan multimedia. Kini konsumen sudah bisa menikmati akses Internet pita-lebar nirkabel di ponsel tanpa harus repot-repot mencari hotspot–sentra akses wireless fidelity (Wi-Fi) yang tak selalu gampang ditemukan. Kini Andalah yang jadi hotspot-nya.

Semua itu berkat teknologi evolution data optimized (EV-DO), evolusi teranyar dari teknologi seluler CDMA2000 1x. Layanan multimedia, seperti video streaming, video sharing, tele-conference, hingga mobile TV, akan dapat dinikmati dengan mudah di ponsel–semudah menggunakannya di laptop.

Di Indonesia, pengguna layanan seluler CDMA 1x akan segera menikmati layanan ini. Mobile-8 Telecom sudah meluncurkan layanan ini untuk wilayah Jakarta. Adapun Telkom (Flexi), Indosat (StarOne), dan Bakrie Telecom (Esia) juga segera meluncurkan layanan serupa.

Sejak versi Rilis-0 dengan kecepatan data maksimum 2.400 kilobita per detik (kbps), generasi ketiga dari jalur CDMA ini berkembang dengan cepat.

EV-DO Revisi-A, misalnya, memiliki kecepatan maksimal 3.100 kbps dan EV-DO Revisi-B memiliki kecepatan maksimum mencapai 46 ribu kbps alias 46 megapita per detik!

Bandingkan dengan generasi teranyar jalur GSM: 3G W-CDMA/UMTS, hanya memiliki kecepatan maksimum 2.000 kbps, dan 3,5G high-speed downlink packet access memiliki kecepatan maksimum 14.400 kbps.

Walaupun Revisi-A tidak akan tersedia secara komersial hingga pertengahan 2006, pengembangan revisi standar EV-DO terus dilakukan–dilanjutkan dengan Revisi-B yang akan rampung pada kuartal pertama 2006. Revisi B akan menyediakan kecepatan data hingga 46.500 kbps–walaupun 9.300 kbps lebih mungkin dalam jaringan komersial.

Kemajuan teknologi nirkabel CDMA2000 1xEV-DO Revisi-A dipamerkan Qualcomm melalui demonstrasi kemampuan konvergensi berbasis protokol Internet (IP) sebagai layanan telepon Internet alias voice over Internet protocol (VoIP) berbasis EV-DO.

Juga ditunjukkan demo kemampuan transfer data EV-DO Revisi-A yang lebih tinggi, pilot interference cancellation dan platinum multicast. Seluruh kemampuan mutakhir ini memungkinkan para operator nirkabel menyediakan layanan data dan suara terbaik dalam format yang variatif sesuai dengan kebutuhan spesifik pengguna.

"Dengan Rev-A, kemampuan CDMA2000 1xEV-DO kembali menjadi benchmark untuk sistem IP wireless wide area," ujar Paul E. Jacobs, CEO Qualcomm.

Fitur Revisi-A kompatibel dengan teknologi berbasis CDMA sebelumnya. EV-DO Revisi-B juga tetap kompatibel sepenuhnya dengan EV-DO Rilis-0 ataupun Revisi-A. "Hal ini menciptakan risiko yang rendah terhadap proses migrasi dari sistem sebelumnya," kata Jacobs.

Selamat Datang Layanan 3G GSM!

Posted February 14, 2006 by eculture
Categories: Column, Consumer, Corporate, Enterprise, Gadget, Mobile Technology, Published, Technology, Writing

Beberapa bulan terakhir ini istilah 3G (baca: triji) mulai akrab di telinga pengguna layanan seluler di Indonesia. Terminologi ini ditujukan buat layanan Wideband Code Division Multiple Access (W-CDMA).

Perlu diingat, meskipun namanya berbau-bau CDMA, W-CDMA tak ada kaitannya dengan migrasi teknologi CDMA. Teknologi ini sejatinya adalah evolusi teranyar Global System for Mobile Communications (GSM). Bukan saja tak berkaitan, GSM dan CDMA malah bersaing satu sama lain.

Mengingat kebutuhan akan layanan komunikasi bergerak bukan hanya untuk suara tapi juga data, akhirnya GSM didukung oleh General Packet Radio Service (GPRS) yang memiliki kecepatan data hingga 115 kilobita per detik (kbps).

Teknologi 2,5G ini memungkinkan koneksi Internet di telepon seluler tanpa perlu dial-up terlebih dulu. Namun, karena masih serba-tanggung, teknologi ini di-upgrade lagi ke Enhanced Data Rates for GSM Evolution. Teknologi 2,75-G ini memiliki kecepatan pengiriman data hingga 384 Kbps.

Mau lebih cepat lagi? Tidak bisa. Ternyata "ilmu"-nya GSM sudah mentok sampai di sini karena memang sejak awal hanya didesain untuk suara. Akhirnya, kecepatannya bisa ditingkatkan menjadi 2 megabita per detik (mbps). Namun, karena pengembangannya meminjam konsep air-interface-nya CDMA, akhirnya teknologi generasi ketiga GSM ini dinamakan W-CDMA.

Pekan lalu, tiga operator besar GSM di Indonesia, Telkomsel, Indosat, dan Excelcom, berhasil mengantongi lisensi layanan 3G W-CDMA menyusul dua operator baru berlisensi serupa, Cyber Access Communication dan Natrindo Telepon Seluler. Saat ini jumlah pengguna GSM di Indonesia tercatat sudah melebihi angka 30 juta.

Apakah ini berarti layanan 3G baru akan dimulai di Indonesia? Tidak juga. Jika pertanyaannya 3G jalur GSM, memang iya. Tapi sesungguhnya 3G jalur lainnya, yakni CDMA2000 1x, sudah beroperasi di Indonesia sejak tiga tahun lalu. Disumbang oleh pengguna Flexi, Esia, Fren, dan StarOne, jumlah pengguna layanan ini sudah lebih dari 5 juta orang. Angka tersebut secara resmi sudah digunakan CDMA Development Group untuk menggambarkan statistik 3G di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi "penyumbang" jumlah pelanggan terbesar.

Pasalnya, meskipun masih tergolong 2,75G, teknologi 2000 1x sejatinya merupakan "3G ready" karena proses upgrade-nya ke EV-DO (Rel-0, Rev-A, dan Rev-B) berlangsung sangat mudah. Operatornya tak perlu sibuk cari frekuensi baru– apalagi ikut tender segala.

Jadi ucapan selamat datang sesungguhnya ditujukan buat pengguna generasi ketiga jalur GSM, bukan CDMA.

(Koran Tempo, 12/2/2005)


Dukungan Online Konsumen

Posted February 8, 2006 by eculture
Categories: Column, Consumer, Corporate, Culture, Published, Technology, Writing, e-commerce

Konsumen adalah raja. Ketika Internet berkembang dan mengubah banyak hal, konsumen makin menjadi raja. Raja Diraja. Ketika seorang konsumen merasa tak puas dengan sebuah produk atau layanan, dengan gampang ia akan berpaling. Semuanya berlangsung cepat.

Dua orang konsultan bisnis, Patricia Moore dan William Moore, dalam bukunya menekankan bahwa konsumen merupakan fokus utama perusahaan dan urat nadi operasi perusahaan. "Bagaimana memahami dan memenuhi harapan-harapan mereka menjadi hal paling krusial untuk mempertahankan sebuah aktivitas bisnis," demikian tulisnya.

Meski ide-ide yang ada di baliknya tidaklah baru, manajemen hubungan konsumen alias customer relationship management telah menjadi sesuatu yang baru selama beberapa tahun terakhir. Sentuhan teknologi baru membuat metode ini makin mempesona.

"Kami telah melihat pergeseran cukup penting selama beberapa tahun belakangan yang bergerak menuju dukungan online berbasis web dan bukan lagi sekadar kontak telepon," ujar Michael Anobile, Direktur Eksekutif Localization Industry Standards Association (LISA).

Sayangnya, di Indonesia hal yang kurang memuaskan menyangkut layanan konsumen ini masih sering dijumpai. Sebut saja ketika mengajukan komplain layanan telepon seluler. Ketika kita menghubungi call center, yang hampir selalu didapatkan adalah bahwa kita harus antre cukup lama. Kalaupun tersambung, komplain kita belum tentu terjawab dengan baik.

Tidaklah mengherankan jika soal kualitas dukungan konsumen ini kini menjadi perhatian serius kalangan industri di dunia. Pemberian penghargaan bagi perusahaan-perusahaan besar dunia yang menyediakan dukungan konsumen terbaik oleh Association of Support Professionals dan LISA membuktikan hal itu.

Pekan lalu, Hewlett Packard, misalnya, mengumumkan bahwa dua layanan online yang dikelolanya, yakni situs web HP Customer Care dan IT Resource Center, meraih predikat terbaik di antara 10 situs dukungan web internasional lain yang terpilih.

Mengurusi konsumen memang tak bisa lagi dilakukan secara sambilan atau setengah hati, kecuali mau cepat mati. (Koran Tempo, 5/2/2006)