Betulkah di masa datang ke kantor tidak diperlukan lagi? Betulkah pertemuan secara fisik antarkaryawan akan semakin berkurang?
Beberapa tahun terakhir sejumlah perusahaan besar memang sudah mulai mengakomodasi konsep mobilitas ketika karyawannya tidak selalu harus datang ke kantor.
Tapi tentu tidak semua karyawan memiliki jenis tugas yang sama. Misalnya ada karyawan yang lebih banyak mengurusi pekerjaan kantoran–tentu tidak bisa disamakan dengan mereka yang mobile.
Lalu bagaimana mengakomodasi keduanya? IBM, sebagai contoh, menawarkan solusi menarik. Perusahaan teknologi informasi terkemuka ini menawarkan dua opsi: memilih jadi karyawan bergerak (mobile employee) atau karyawan yang bisa bekerja jarak jauh (telecommuting).
Sistem ini diterapkan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Karena itu, setiap karyawan akan dibekali dengan komputer notebook yang komplet dan perusahaan menyediakan infrastrukturnya.
Pilihan pertama ditawarkan kepada karyawan yang karena tugasnya lebih sering bertemu dengan pelanggan dan klien di lapangan.
Pilihan kedua ditujukan kepada karyawan kantoran yang tetap bisa mengerjakan tugasnya di rumah pada waktu-waktu tertentu.
Keuntungannya jelas: karyawan bisa fleksibel mengatur waktunya, intensitas pertemuan dengan pelanggan bisa lebih tinggi, dan tugas-tugas yang dikerjakan di rumah bisa cepat selesai.
Perusahaan sendiri akan mendapati para karyawannya yang produktif dan termotivasi. Belum lagi penghematan dari segi operasional dan ruang kantor.
Memang, bagi perusahaan yang sudah maju, output jauh lebih penting ketimbang proses yang panjang dan kaku.
Di perusahaan-perusahaan konvensional, mengisi absen di kantor masih menjadi kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar.
Bahkan karyawan yang sering di lapangan tetap harus tergopoh-gopoh menembus macet serta deru dan debu hanya karena diwajibkan datang ke kantor.
Apalagi diperparah pula oleh budaya perusahaan yang masih konservatif: sang bos akan naik pitam jika tidak melihat bawahannya nongol di kantor.
Mulai memikirkan bagaimana merancang format bekerja jarak jauh bagi karyawan, jauh lebih penting ketimbang menghabiskan waktu dan tenaga menyelidiki absensi karyawan.
Budi Putra
Koran Tempo, 9 Juli 2006 | e-culture
